Tuesday, 14 August 2012

Greatness Comes to Those Who Dare to Fail


There seems to be an increasing number of Indonesians that are interested in being entrepreneurs. Strong indicators of this interest are the numerous events that have popped up recently offering education, business forums and courses in entrepreneurship. Just last month alone, thousands of enthusiastic individuals flocked to two large entrepreneurship festivals in Jakarta and Bandung seeking knowledge and opportunities.
 
However, there are also thousands of people who pass up entrepreneurial opportunities for the same reason why people in general are reluctant to try something new in their life — the fear of failure.
 
Mankind has long been programmed with a natural desire to learn, improve or achieve something. This can be seen with the various technological advancements we have seen in the last two decades. Without this desire, we will still be living in the Stone Age. There are those, however, that have become too comfortable in their perceived comfort zone. Any change is taken negatively rather than positively, and taking a risk in something new is just not worth the disruption to their lives.
 
As such, you can expect a plethora of feeble excuses from these people to stay put and avoid the unknown: I’m not ready. I don’t have the time. I don’t have what it takes. I don’t have enough money. What will people say? How can I compete with others? 

And the biggest excuse for inaction would be: What if I fail?
 
It seems that fear of the unknown and worrying are fundamental aspects of being human. It is a natural instinct of self-preservation. However, it is best to change one’s mindset regarding failure. Fear of failure prevents us from trying new life experiences: a new hobby, a new relationship, a new business, etc. Luckily, self-limiting beliefs are not unbreakable. Fear can be overcome. Worry can be rationalized. Failure can be mitigated.
 
First and foremost, we need to wrap our head around the fact that we need failure in our lives. Failure gives us feedback in order to succeed. Every successful person I have known has failed one way or another. It is how they used failure as a learning experience to bounce back and become successful again that is the hallmark of a true entrepreneur. 

Steve Jobs was a shining example of being able to sustain failure. Today, we remember him for his turnaround at Apple and the introduction of life changing devices such as the iPod, the iPhone, the iPad and the new iMac line of computers. However, few would remember him being forced out of a boardroom coup at Apple in 1985 after a run of bad products (the most notable being "Lisa," a computer that costs tens of millions to develop but was considered an epic fail), or his attempt at starting a competing company, NeXT which ended up as a flop — depending on which side you are standing on (Apple bought NeXT for $429 million in 1996 as part of the deal to hire Jobs back). As Apple co-founder Steve Wozniak mentioned in the Innovation and Creativity seminar in Jakarta last month, it was Jobs' failure in his previous stints that drove him to do better when he returned to the company he founded.
 
Secondly, for those who still tremble at the word "failure," try to refocus and re-classify failure as "practice" or "experimentation." A professional football player attempting to perfect a trick would have to practice it hundreds of times first during training sessions before daring to try it out on the big stage. Each of these practices are actually miniature failures — from the feedback he gets, he will attempt to either replicate the same action or change the way he is doing it in order to achieve the desired result. 

Cristiano Ronaldo of Real Madrid FC is a perfect example of this. Many laud his God-given talent on the pitch, but few know of the number of hours he puts in after training each day practicing his craft to fulfill his ambition of being the world’s best. If we can do the same with our lives and keep practicing until we succeed, then every single failure we have brings us closer to our goal.
 
Finally, we need to manage and learn from failure. Know your limits and fail within the "safety zone," that is, when failure occurs, it is not catastrophic or affects your life in an adverse manner. You also need to stand up to failure. Analyze what created that failure and treat it as a life lesson. Don’t run away from it and try to bury your head in the sand like an ostrich. Most of all, never be afraid to attempt again. I like to think the cost of failure is akin to your "tuition fee." By making mistakes and failing, you are gathering life experiences that give you the insight to improve and become a better person.
 
Be it in business or in everyday life, if we dare ourselves to be a little bit more adventurous, confront our fear, muster the courage to try a few simple but new things or to pursue your true calling and savor the ups and downs, you will eventually succeed. You will also feel empowered and in control because you took the opportunity and gave it a try. After all, we all need to get around the fact that failure is part of life, and is also a necessary step towards success. Once you dare to fail, you are on your way to success.
 
Brandon Chia is Chairman of HDI Group of Companies and recently assigned to oversee the business unit in Indonesia.

Saturday, 11 August 2012

kiat sukses mempertahankan eksistensi usaha


Berhasil merintis sebuah usaha ternyata belum bisa menjanjikan kesuksesan bagi pelakunya. Tak jarang para pelaku usaha harus gigit jari manakala bisnis yang dijalankannya mengalami kebangkrutan akibat gempuran pasar yang semakin pesat.
Tingginya persaingan pasar dan besarnya tuntutan konsumen menjadikan langkah para pengusaha dalam mempertahankan eksistensinya tidak lebih mudah daripada merintis sebuah usaha. Kondisi seperti ini tentunya menjadi tantangan besar bagi para pelaku bisnis, sehingga dibutuhkan strategi-strategi jitu agar kesuksesan usaha mereka tetap bisa terjaga di tengah persaingan pasar yang semakin meningkat.
Nah, untuk membantu para pelaku usaha mempertahankan eksistensi bisnisnya. Pada kesempatan kali ini sengaja kami informasikan beberapa tips bisnis yang bisa Anda jalankan agar kesuksesan bisnis Anda tetap terjaga di tengah ramainya persaingan yang ada.
Pertama, jadilah solusi total bagi permasalahan para konsumen. Ketika Anda telah berhasil merebut kepercayaan para konsumen, maka selanjutnya tingkatkan loyalitasnya dengan memenuhi kebutuhan yang mereka cari. Strategi tersebut cukup efektif untuk mempererat hubungan Anda dengan para konsumen. Dengan memberikan total solution bagi permasalahan yang mereka hadapi, tentunya konsumen pun semakin enggan untuk berpaling ke produk yang lain.
Kedua, ikuti perkembangan pasar. Untuk mempertahankan kesuksesan bisnis Anda, sebaiknya ikuti perkembangan trend pasar yang diminati para konsumen. Dengan mengikuti perkembangan trend terbaru, maka Anda bisa mengetahui minat para konsumen saat ini dan berusaha memenuhinya untuk menciptakan kepuasan pelanggan. Semakin sering Anda melakukan inovasi, maka semakin besar pula peluang yang Anda ciptakan untuk memenangkan persaingan pasar.
 Ketiga, amati gerakan para pesaing. Laju pertumbuhan para pesaing perlu diamati agar pelaku usaha bisa mengetahui seberapa besar ancaman yang ada di sekitarnya dan strategi apa yang bisa mereka gunakan agar bisnisnya tidak tenggelam di tengah gempuran persaingan yang ada. Ketika pergerakan para pesaing telah Anda ketahui, maka secara tidak langsung Anda akan termotivasi untuk mencari ide-ide baru dan menciptakan inovasi produk unik guna mengatasi ancaman kompetitor yang semakin sengit.
Keempat, fokus untuk mengembangkan usaha Anda. Ketika Anda dikelilingi para pesaing, maka jangan pernah takut dan usahakan untuk menentukan satu prioritas utama yang menjadi target bisnis Anda, baik untuk rencana jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan menentukan prioritas utama yang ingin Anda capai, maka secara tidak langsung Anda bisa lebih fokus membawa bisnis tersebut semakin ke depan dan meninggalkan para pesaing Anda.
Kelima, perluas jaringan bisnis Anda. Banyak orang mengatakan “Semakin banyak relasi, semakin banyak rejeki.” Perumpamaan tersebut memang sangat cocok bagi para pelaku usaha. Dengan memiliki banyak relasi, maka semakin besar pula peluang sukses yang mereka miliki, sehingga tidak heran bila pemasaran bisnisnya semakin pesat dan perkembangan usahanya mengalami peningkatan yang cukup positif. Ingat, semakin kuat kerjasama yang Anda jalin, maka semakin mudah pula jalan Anda dalam mempertahankan eksistensi usaha.

 Semoga informasi kiat sukses mempertahankan eksistensi usaha ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan membantu para pemula yang sedang mulai merintis sebuah usaha. Ciptakan strategi jitu bagi bisnis Anda dan jadilah pemenang dalam setiap persaingan yang ada, salam sukses.

(sumber:bisnisukm.com)

Ini yang Membuat Orang Kaya Makin Bertambah Hartanya


Istilah orang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, sudah sering kita dengar. Kenyataannya fenomena itu memang benar-benar terjadi dalam kehidupan kita.

Berikut ini penjelasan singkat pakar marketing Tung Desem Waringin, bagaimana kita berpikir dan memposisikan diri sebagai orang yang kaya, menengah atau bahkan hanya sebagai orang miskin:

Mengapa orang kaya semakin kaya? Karena begitu orang kaya penghasilannya bertambah besar, maka gaya hidupnya sementara tetap (menunda kesenangan). Penghasilan yang lebih ini di investasikan kedalam asset. Misalnya beli saham yang menghasilkan deviden, rumah kost kost-an, ruko yang dikontrakkan, Mall yang disewakan, sarang walet, usaha-usaha yang menghasilkan, dan lain-lain.

Sedemikian sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan ketika penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut diatas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.

Mengapa orang menengah bergumul terus secara finansial? Ketika orang menengah penghasilannya bertambah besar maka dia mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan banyak sekali uang untuk kewajiban sehingga masuk kedalam pengeluaran.

Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.

Mengapa orang miskin bablas miskin?
Orang miskin tidak perduli seberapa besar pun penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran.

Contoh:
Orang miskin begitu penghasilannya bertambah besar mereka beli TV yang besar, beli jamnya yang mahal, beli hp yang lebih baru, beli baju mahal, makan di restoran mewah, ikut keanggotaan fitness, ikut asuransi yang tidak perlu, dan lain-lain. Semua dijalankan karena gaya hidup moderen atau tidak mau ketinggalan zaman.

Pertanyaannya: Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan uang lagi atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakan Anda?

Semoga bermanfaat, Saya Tung Desem Waringin mengucapkan salam dahsyat!

(Sumber: detik finance)

Ngutang ke 'IMF' Masuk 11 Jurus Jitu Dapat Modal Usaha


Modal adalah suatu hal yang wajib ketika Anda mulai bisnis. Ada yang menggunakan modal besar atau pun modal kecil. Namun ada pun yang tidak memakai modal dan bisa memulai serta mengembangkan bisnis.

Berikut ini 11 cara mendapatkan modal untuk memulai bisnis, yaitu :

1. Menabung
Menabung adalah modal awal Anda.

2. Berhutang kepada IMF (Istri Mertua Famili )/(Suami, Mertua, Saudara)

3. Berhutang kepada teman
Jika Anda diberikan pinjaman oleh teman Anda dengan jumlah uang yang lebih besar dari yang Anda pinjam, Anda bisa melakukan cicilan untuk membayar uang yang dipinjam.

4. Berhutang kepada Bank
Jika Anda berhutang kepada Bank, Anda harus membayar tepat waktu. Jika Anda tidak bisa bayar, Anda akan diblacklist dan sulit untuk berhutang ke bank-bank lainnya. Karena hutang Anda sudah tercatat di Bank Indonesia.

5. Private Investor
Anda beli diawal dan menjadi private investor dengan membangun investor juga.

6. Modal Ventura
Suatu bisnis yang sudah terlihat bahwa bisnis itu akan berkembang pesat sehingga di beri modal dengan bagi hasil jika sudah mendapatkan keuntungan.

7. Jual Saham
Anda juga bisa menjual saham dengan vuture Value.

8. Jual Franchise
Jika Anda sudah memiliki tambahan modal, Anda bisa mengembangkan dengan lebih besar.

9. Jual Ide
Meskipun Anda tidak mempunyai modal, Anda bisa menjual ide Anda jika Anda memang memiliki ide yang sangat cemerlang.

10. Partnership
Jika memang sudah join dalam berpartner, maka proyek diatas namakan milik berdua. Sehingga terjalin kerjasama yang erat dalam suatu proyek.

11. Berhutang kepada Supplier
Anda juga dapat meminjam kepada supplier Anda, jika memang ada. Jika tidak alda, jangan memaksa untuk harus ada.

Dan ada 2 cara untuk usaha tanpa modal, yaitu

1. Makelar
Menjadi makelar, memasarkan produk orang lain dengan perhitungan komisi.

2. Tukar ilmu atau waktu, tempat dan talenta

Sekian artikel tentang cara mendapatkan modal, dan bisnis tanpa modal. Semoga bermanfaat, Saya Tung Desem Waringin mengucapkan Salam Dahsyat.

(Sumber : Detik Finance)

Ini Cara Mengubah Kegagalan Jadi Sebuah Peluang


Bagi seorang pemenang, kekecewaan, kekalahan atau kegagalan memberi inspirasi kepada mereka untuk terus belajar dan take action sehingga mereka lebih baik dan lebih kuat. Bagi pecundang, kekecewaan, kekalahan atau kegagalan menghentikan mereka.

Mengutip John D. Rockefeller, "Saya selalu berusaha mengubah setiap bencana menjadi peluang" Menurut ayah kaya Robert Kiyosaki, "Hanya orang bodoh yang berharap semua berjalan sesuai dengan keinginannya"

Siap untuk kecewa bukan berarti menjadi seorang pecundang yang kalah atau pasif. Dengan siap secara mental dan emosional serta finansial mempersiapkan diri menghadapi kejutan yang mungkin kita tidak inginkan maka kita bisa bertindak dengan tenang dan bijaksana ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Dengan kata lain kita harus siap dengan kemungkinan terburuk dan selalu berjuang (termasuk dalam hal ini belajar, mempunyai impian) dengan konsisten dan persisten untuk mencapai yang terbaik.

Singkatnya, kita semua melakukan kesalahan. Kita semua merasa kesal dan kecewa ketika keadaan tidak sesuai keinginan kita. Namun perbedaannya terdapat pada cara kita memproses kekecewaan itu secara internal. Ayah kaya meringkasnya seperti ini.

Ia berkata, "Ukuran keberhasilanmu ditentukan oleh kekuatan hasratmu; besarnya mimpimu; dan caramu menghadapi kekecewaan selama perjalanan.”Banyak orang yang menggunakan kekecewaannya seperti membangun tembok mengelilingi mereka sehingga mereka tidak berkembang lagi. Tetapi ada juga yang menggunakan kekecewaan sebagai pondasi atau batu pijakan untuk tumbuh menjadi lebih baik.

Bagaimana caranya menggunakan kekecewaan, kekalahan atau kegagalan menjadi kekuatan. Yaitu dengan menggunakan pertanyaan di bawah ini :




  1. Apa yang harus saya pelajari dari kejadian ini sehingga besok saya menjadi lebih baik?
  2. Saya harus belajar apa sedemikian sehingga bila menghadapi hal yang sama, saya akan jauh lebih berhasil?
  3. Siapa yang bisa membantu saya untuk menghadapi masalah yang sama sedemikian sehingga menjadi lebih mudah berhasil?

Semoga bermanfaat, Saya Tung Desem Waringin mengucapkan salam dahsyat!

(Sumber dari Detik.com)

Friday, 25 May 2012

Kunci Sukses Menjadi Entrepreneur Muda


1. Kreatif dan inovatif, terus menciptakan nilai tambah.
2. Mampu mengelola usaha hingga terus menciptakan laba
3. Mencintai pekerjaannya
4. Bisa membangun networking
5. Bisa menjaga kepercayaan


Thursday, 24 May 2012

Rudi Rusdiah di Warta Ekonomi thn.2002